Stonehenge, Monumen Batu Ribuan Tahun yang Menjaga Rahasia Wiltshire

Tempat Wisata118 Views

Stonehenge berdiri di Salisbury Plain, Wiltshire, sebagai salah satu peninggalan prasejarah paling terkenal di dunia. Susunan batu raksasa yang terlihat sederhana dari kejauhan sebenarnya lahir melalui pekerjaan panjang serta perubahan rancangan selama beberapa abad. Situs ini berada sekitar 150 kilometer di sebelah barat London dan menjadi pusat bentang arkeologi yang dipenuhi gundukan pemakaman, jalur upacara, permukiman, serta bangunan tanah dari zaman Neolitik dan Zaman Perunggu.

Stonehenge tidak selesai dalam satu masa. Pekerjaan pertama dimulai sekitar 3000 SM melalui pembuatan parit berbentuk lingkaran. Susunan batu besar yang dikenal sekarang mulai didirikan sekitar 2500 SM, lalu mengalami penataan ulang selama ratusan tahun.

Monumen Pertama Berupa Parit dan Tanggul Tanah

Wujud awal Stonehenge sangat berbeda dari pemandangan hari ini. Para pembangunnya menggali parit melingkar menggunakan alat dari tanduk rusa, kemudian menumpuk kapur hasil galian untuk membentuk tanggul di sisi dalam dan luar. Lingkaran tanah itu memiliki diameter sekitar 100 meter dan menjadi batas bagi ruang yang diperlakukan secara khusus.

Aubrey Holes Menyimpan Jejak Pemakaman

Di bagian dalam parit terdapat 56 lubang yang dikenal sebagai Aubrey Holes. Lubang tersebut kemungkinan pernah menampung tiang kayu atau batu berdiri. Sejumlah lubang, parit, dan tanggul juga digunakan untuk menempatkan sisa kremasi manusia. English Heritage memperkirakan sekitar 150 orang dimakamkan di Stonehenge antara 3000 dan 2800 SM, sehingga fungsi awal tempat ini berkaitan erat dengan penghormatan kepada orang yang telah meninggal.

Analisis tulang menunjukkan bahwa sebagian orang berasal dari wilayah lain sebelum abunya dibawa ke Stonehenge. Situs ini berarti telah menarik masyarakat dari jarak jauh sebelum lingkaran batu besar didirikan.

Batu Sarsen Membentuk Siluet Stonehenge

Perubahan besar terjadi sekitar 2500 SM ketika batu sarsen dan batu yang disebut bluestone ditempatkan di pusat bangunan tanah. Batu sarsen disusun menjadi lingkaran luar serta formasi tapal kuda di bagian dalam. Bentuk inilah yang melahirkan siluet Stonehenge yang mudah dikenali.

Lingkaran Luar Disatukan oleh Lintel

Lingkaran terluar diperkirakan mempunyai 30 batu sarsen tegak. Bagian atasnya disatukan oleh batu mendatar yang disebut lintel. Di dalam lingkaran berdiri lima trilithon, yaitu pasangan batu tegak yang menyangga satu lintel, dan seluruhnya membentuk tapal kuda. Sebagian batu telah roboh atau hilang, tetapi susunan tersisa masih memperlihatkan ketelitian rancangan awal.

Batu sarsen rata rata berbobot sekitar 25 ton, sedangkan Heel Stone diperkirakan mencapai 30 ton. Penelitian geokimia menunjukkan bahwa sebagian besar batu tersebut kemungkinan berasal dari West Woods di kawasan Marlborough Downs, sekitar 25 sampai 32 kilometer dari Stonehenge.

Sambungan Batu Meniru Pertukangan Kayu

Para pekerja membentuk tonjolan pada batu tegak dan membuat lubang pada lintel agar keduanya saling mengunci. Lintel dalam lingkaran luar juga disatukan melalui sambungan lidah dan alur, sebuah cara yang lebih lazim ditemukan pada pertukangan kayu. Batu pukul dalam berbagai ukuran digunakan untuk memecah, membentuk, dan menghaluskan permukaannya.

Survei laser menunjukkan sisi timur laut serta permukaan dalam trilithon pusat dikerjakan lebih teliti, menandakan bahwa arah pandang dari dalam lingkaran diperhitungkan.

Menurut penulis, kecanggihan Stonehenge paling jelas terlihat pada sambungan lintelnya. Para pembangun tidak sekadar menegakkan batu besar, tetapi menerapkan cara kerja yang menuntut pengukuran, ketelitian, dan pembagian tenaga dalam skala luas.

Bluestone Menempuh Perjalanan dari Wales

Di antara batu sarsen terdapat batu lebih kecil yang secara umum disebut bluestone. Istilah tersebut mencakup beberapa jenis batuan yang dapat menampilkan warna kebiruan ketika basah atau baru pecah. Berat setiap batu diperkirakan antara dua hingga lima ton. Sebagian besar berasal dari Preseli Hills di Wales barat daya, lebih dari 250 kilometer dari Wiltshire.

Posisi Bluestone Berubah Beberapa Kali

Bluestone tidak selalu berada pada susunan yang terlihat sekarang. Batu batu tersebut tampaknya pernah ditempatkan dalam formasi awal, lalu dipindahkan menjadi lingkaran dan tapal kuda yang lebih kecil. Beberapa memperlihatkan bekas pengerjaan yang menunjukkan kemungkinan pernah dipasang dalam struktur berbeda sebelum digunakan kembali di Stonehenge.

Penelitian di Waun Mawn, Preseli Hills, menemukan lubang bekas batu yang memunculkan dugaan bahwa sejumlah bluestone berasal dari lingkaran lebih tua yang dibongkar. Pendapat ini masih dibahas oleh para ahli.

Altar Stone Ternyata Berasal dari Skotlandia

Penelitian yang diumumkan pada 2024 mengubah pemahaman mengenai Altar Stone, batu pasir seberat sekitar enam ton di pusat Stonehenge. Analisis usia dan komposisi mineral menunjukkan kemiripan kuat dengan batuan dari Orcadian Basin di timur laut Skotlandia, bukan Wales seperti yang lama diperkirakan. Batu tersebut kemungkinan menempuh perjalanan sedikitnya 700 kilometer sebelum tiba di Wiltshire.

Cara pemindahannya belum dapat dipastikan. Jalur darat membutuhkan kerja sama melalui banyak wilayah, sedangkan jalur laut membawa risiko besar. Sumber yang lebih tepat di Skotlandia juga masih dicari.

Pembangunan Memerlukan Ratusan Pekerja

Tidak ditemukan catatan tertulis dari para pembangun Stonehenge. Penjelasan mengenai tekniknya disusun melalui bukti penggalian, percobaan arkeologi, bekas alat, bentuk lubang batu, serta teknologi yang tersedia pada masa itu. Roda belum digunakan di Inggris ketika susunan utamanya dibangun.

Kayu, Tali dan Kereta Luncur Menjadi Peralatan Utama

Batu kemungkinan dipindahkan menggunakan kereta luncur yang ditarik di atas jalur kayu atau permukaan yang telah disiapkan. Ratusan orang harus bekerja bersama, sementara kelompok lain menyediakan makanan, tali, kayu, batu pukul, serta kebutuhan keluarga pekerja.

Untuk mendirikan batu, pekerja diduga menggali lubang dengan salah satu sisi miring. Ujung batu diarahkan ke dalam lubang, lalu tubuhnya ditarik dengan tali dan ditopang rangka kayu sampai berdiri. Lintel dapat dinaikkan sedikit demi sedikit melalui tumpukan kayu yang terus ditambah ketinggiannya. Rincian persisnya belum diketahui karena beberapa cara dapat menghasilkan susunan serupa.

Arah Matahari Menjadi Bagian Utama Rancangan

Stonehenge berhubungan jelas dengan titik terbit dan terbenam matahari pada titik balik tahunan. Saat titik balik musim panas, matahari terbit di dekat Heel Stone dan cahayanya masuk menuju pusat lingkaran. Pada titik balik musim dingin, matahari dahulu terlihat terbenam di antara batu tegak trilithon tertinggi, sebelum separuh susunan tersebut roboh.

Perayaan Musim Dingin Diduga Lebih Penting

Batu yang membingkai sumbu matahari dibuat lebih rapi dibandingkan bagian tertentu lainnya. Jalur Avenue juga mengikuti arah timur laut dan barat daya, menghubungkan Stonehenge dengan Sungai Avon. Susunan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan manusia menuju monumen serta perjalanan matahari diperhitungkan bersama.

Bukti dari Durrington Walls, permukiman besar di dekat Stonehenge, memperlihatkan adanya perjamuan pada musim dingin. Banyak babi disembelih pada periode tersebut, sementara sapi dan babi dibawa dari wilayah jauh. Hal itu mengisyaratkan pertemuan besar yang melibatkan masyarakat dari berbagai tempat.

Stonehenge Bukan Sekadar Kalender Batu

Kemampuan Stonehenge menandai titik balik matahari tidak membuktikan bahwa fungsinya hanya sebagai kalender. Hubungan dengan pemakaman, perjamuan, perjalanan upacara, serta penghormatan terhadap matahari menunjukkan penggunaan yang lebih luas. English Heritage menilai kehidupan keagamaan berada di pusat kegiatan Stonehenge, meskipun rincian acaranya tidak diketahui.

Penulis menilai daya tarik Stonehenge justru terletak pada batas pengetahuan yang masih tersisa. Bukti arkeologi memberi arah yang kuat, tetapi tidak menyediakan satu jawaban tunggal mengenai seluruh kegiatan yang pernah berlangsung di dalam lingkaran batu.

Stonehenge Berada di Tengah Bentang Upacara

Stonehenge tidak berdiri sendirian di padang kosong. Wilayah sekitarnya memuat Durrington Walls, Woodhenge, Avenue, gundukan pemakaman, Cursus, serta banyak sisa bangunan lain. UNESCO menilai Stonehenge dan Avebury sebagai kumpulan monumen prasejarah dengan nilai internasional yang sangat tinggi. Kawasan gabungan tersebut masuk dalam Daftar Warisan Dunia pada 1986.

Durrington Walls Menjadi Tempat Tinggal dan Perjamuan

Penggalian di Durrington Walls menemukan rumah kecil dari kayu dan kapur, tembikar, tulang hewan, serta sisa kegiatan makan bersama. Lokasi ini juga memiliki bangunan kayu untuk kegiatan khusus dan jalur menuju Sungai Avon. Para ahli menduga sebagian orang yang membangun atau menggunakan Stonehenge pernah tinggal sementara di sana.

Durrington Walls kerap dilihat sebagai ruang kehidupan dan perjamuan, sedangkan Stonehenge lebih dekat dengan leluhur serta orang mati. Pendapat itu belum menjadi jawaban akhir.

Avenue Membentuk Jalur Menuju Sungai Avon

Avenue terdiri atas tanggul dan parit sejajar sepanjang hampir tiga kilometer. Jalur ini bergerak dari Stonehenge menuju Sungai Avon dan kemungkinan digunakan sebagai jalan upacara. Bagian akhirnya mengikuti sumbu titik balik matahari, sehingga orang yang berjalan melaluinya akan memasuki lingkaran batu melalui arah yang telah diatur.

Cerita Druid dan Merlin Muncul Jauh Lebih Belakangan

Ketiadaan catatan tertulis membuat Stonehenge dikelilingi cerita dari masa yang lebih muda. Pada abad ke 12, Geoffrey of Monmouth menghubungkannya dengan Merlin dan kisah pemindahan batu dari Irlandia. Beberapa abad kemudian, John Aubrey dan William Stukeley mengaitkannya dengan kaum Druid. Catatan arkeologi menunjukkan bahwa lingkaran utama telah berdiri ribuan tahun sebelum kelompok Druid yang disebut dalam sumber Romawi.

Cerita tersebut berpengaruh dalam budaya populer, tetapi tidak dapat dijadikan penjelasan sejarah. Pengetahuan tentang para pembangun diperoleh dari rumah, tulang, alat, tembikar, sisa makanan, dan perubahan pada tanah.

Teknologi Modern Terus Membuka Informasi Baru

Survei laser mengungkap bekas pengerjaan serta ukiran Zaman Perunggu pada permukaan batu. Pengukuran geofisika membantu menemukan lubang, bangunan tanah, dan gundukan tanpa menggali seluruh lokasi. Penelitian kimia memungkinkan batu dihubungkan dengan sumber geologinya.

Aktivitas Romawi juga ditemukan di dalam lingkaran, menunjukkan bahwa Stonehenge terus didatangi lama setelah masyarakat pembangunnya menghilang.

Pemugaran Membentuk Tampilan Stonehenge Sekarang

Stonehenge yang terlihat saat ini bukan susunan yang sama sekali tidak pernah disentuh. Sejumlah batu roboh akibat perubahan tanah, cuaca, dan gangguan manusia. Pada abad ke 20, beberapa batu ditegakkan kembali, diperkuat, serta dipasang pada dasar beton. Pekerjaan besar berlangsung pada 1950 an hingga 1964.

Pada 2021, petugas mengganti semen lama pada retakan lintel dengan mortar kapur yang memungkinkan air keluar. Perawatan juga mempertimbangkan lumut kerak yang hidup di permukaan batu. Langkah pelestarian kini berusaha menjaga kestabilan tanpa menghapus jejak usia monumen.

Mengunjungi Stonehenge dari Salisbury atau London

Stonehenge dapat dicapai melalui Visitor Centre yang dikelola English Heritage. Pusat kunjungan menampilkan lebih dari 250 benda arkeologi, termasuk tembikar, perhiasan, alat, dan sisa manusia dari wilayah Stonehenge. Rumah Neolitik yang direkonstruksi membantu pengunjung melihat bentuk tempat tinggal masyarakat pada masa pembangunan.

Dari Visitor Centre, pengunjung dapat menggunakan bus menuju lingkaran batu atau berjalan melintasi padang. Jalur umum menjaga pengunjung pada jarak tertentu untuk melindungi tanah dan batu, sedangkan akses ke bagian dalam tersedia melalui Stone Circle Experience dengan pemesanan khusus. Stonehenge terletak di dekat jalan A303 dan perjalanan dengan mobil dari pusat London biasanya memerlukan sekitar dua jam, bergantung pada lalu lintas.

Salisbury menjadi kota terdekat yang sering digunakan sebagai titik keberangkatan. Kunjungan dapat dipadukan dengan Avebury, Woodhenge, atau museum di Salisbury. Perubahan cahaya dan cuaca membuat sarsen serta bluestone menampilkan warna berbeda sepanjang hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *