Air Waduk Gajah Mungkur Surut, Makam Lama Kembali Terlihat di Wonogiri

Berita4 Views

Air Waduk Gajah Mungkur Surut, Makam Lama Kembali Terlihat di Wonogiri

Air Waduk Gajah Mungkur Surut, Makam Lama Kembali Terlihat di Wonogiri Permukaan air Waduk Gajah Mungkur di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, kembali menyusut pada musim kemarau September 2026. Turunnya air membuka bagian dasar waduk yang biasanya tertutup genangan, termasuk kompleks pemakaman lama di wilayah Kelurahan Wuryantoro.

Puluhan batu nisan sudah terlihat pada Rabu, 9 September 2026. Sebagian muncul secara utuh, sementara lainnya baru terlihat sebagian karena permukaan air tahun ini belum turun sedalam beberapa musim kemarau sebelumnya. Camat Wuryantoro Soemardjono Fadjari mengatakan kemunculan makam tersebut merupakan fenomena yang berulang hampir setiap tahun ketika debit waduk berkurang.

Penyebutan ratusan makam bukan tanpa dasar. Pada kemarau yang lebih kering pada 2023, ANTARA melaporkan ratusan makam terlihat di area Waduk Gajah Mungkur. Pada September 2026, jumlah yang telah terlihat di lokasi Wuryantoro masih puluhan karena sebagian besar struktur makam masih tertutup air.

Fenomena tersebut sekaligus membuka kembali jejak kampung yang dahulu berada di wilayah genangan. Waduk Gajah Mungkur dibangun dengan menenggelamkan puluhan desa dan memindahkan ribuan keluarga. Rumah, sawah, jalan desa, fasilitas umum, serta area pemakaman pernah berdiri di tempat yang sekarang dikenal sebagai salah satu waduk terbesar di Jawa Tengah.

Makam Mulai Terlihat Lebih Lambat pada Kemarau 2026

Kemunculan nisan biasanya mulai terlihat sekitar Agustus. Tahun ini waktunya mundur hingga September karena air waduk masih relatif tinggi setelah musim hujan sebelumnya menghasilkan cadangan air yang cukup besar.

Soemardjono menjelaskan baru sebagian makam terlihat. Sejumlah nisan masih berada di bawah permukaan sehingga kompleks pemakaman belum terbuka sepenuhnya seperti ketika air turun lebih jauh.

Warga Wuryantoro bernama Karni mengatakan nisan mulai terlihat beberapa hari sebelum 9 September. Dari tepi waduk, batu berwarna terang terlihat tersebar pada tanah yang mulai mengering.

Pengamatan di lokasi menemukan batu nisan dengan ukuran beragam, mulai sekitar setengah meter sampai dua meter. Sebagian masih berdiri pada posisi lama, sedangkan lainnya sudah miring, pecah, atau terkikis setelah puluhan tahun terendam air.

Beberapa nisan masih mempunyai ukiran tulisan. Namun, huruf dan angka pada permukaannya semakin sulit dikenali karena terus terkena air, lumpur, perubahan suhu, serta pergerakan material di dasar waduk.

Kondisi itu membuat pemandangan yang muncul setiap kemarau selalu berubah. Ada nisan yang pada satu musim terlihat jelas, tetapi masih terendam pada musim berikutnya karena permukaan air tidak turun hingga tingkat yang sama.

Sebutan Makam Kuno Perlu Dipahami dengan Tepat

Banyak pemberitaan menyebutnya sebagai makam kuno. Istilah tersebut lebih merujuk pada makam lama yang telah berada di lokasi sebelum pembangunan waduk, bukan penemuan situs pemakaman purbakala yang baru diketahui.

Sebagian kompleks merupakan tempat pemakaman umum warga desa yang dahulu berdiri di wilayah tersebut. Ketika proyek Waduk Gajah Mungkur berjalan, permukiman dipindahkan dan sebagian jenazah juga direlokasi.

Di Wuryantoro, salah satu kompleks yang kembali terlihat dahulu berada di Dukuh Sentono, Desa Ngungkingsari. Tokoh masyarakat setempat, Suparso, menjelaskan kawasan tersebut merupakan makam umum masyarakat kampung dan dikenal pula karena keberadaan makam tokoh yang disebut Eyang Raden Santri.

Menurut penuturan Suparso, kerangka Eyang Raden Santri serta jenazah lain telah dipindahkan sebelum kawasan digenangi. Makam baru dibuat di sekitar Balat, dekat Kantor Kelurahan Wuryantoro.

Dengan demikian, sejumlah struktur yang terlihat di dasar waduk saat ini berupa bekas makam dan batu penandanya. Setidaknya untuk kompleks Sentono, warga setempat mengatakan jenazah sudah direlokasi sebelum air menggenangi daerah tersebut.

Menurut penulis, penjelasan ini penting agar kemunculan nisan tidak dipahami sebagai penemuan ratusan jenazah baru. Yang kembali terlihat adalah jejak ruang pemakaman dari kampung yang sudah ada sebelum pembangunan waduk.

Eyang Raden Santri Menjadi Tokoh yang Paling Dikenal

Di antara deretan nisan lama, cerita mengenai Eyang Raden Santri menarik perhatian warga. Suparso yang berusia 77 tahun menyebut tokoh tersebut dahulu dikenal sebagai warga Kampung Sentono.

Berdasarkan cerita yang diwariskan masyarakat, Eyang Raden Santri awalnya merupakan seorang petani. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh yang menyebarkan ajaran Islam di daerah tersebut setelah melakukan perjalanan menyusuri Bengawan Solo. Kisah itu berkembang melalui cerita lisan dari satu generasi menuju generasi berikutnya.

Masyarakat dahulu melakukan nyadran dan ziarah di makamnya. Lokasi tersebut juga pernah didatangi peziarah dari berbagai tempat sebelum pembangunan Waduk Gajah Mungkur mengubah bentuk kawasan.

Cerita mengenai perjalanan Eyang Raden Santri mengandung bagian yang berasal dari kepercayaan serta tradisi lisan masyarakat. Karena itu, kisah mengenai tokoh yang ditemuinya dan perjalanan spiritual yang dijalani tidak dapat disamakan dengan catatan sejarah tertulis yang telah diverifikasi.

Hal yang dapat dipastikan dari keterangan warga adalah keberadaan kompleks pemakaman tersebut jauh mendahului genangan Waduk Gajah Mungkur dan pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sentono.

Waduk Dibangun dengan Menenggelamkan 51 Desa

Jejak makam tersebut berkaitan erat dengan sejarah pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Pemerintah Kabupaten Wonogiri mencatat pembangunan berlangsung pada periode 1976 sampai 1981 dengan luas genangan lebih dari 8.800 hektare.

Lahan yang dibebaskan mencapai sekitar 90 kilometer persegi dan meliputi 51 desa di tujuh kecamatan. Bendungan dibangun di bagian hilir pertemuan Kali Keduang dengan sistem Bengawan Solo, sekitar tujuh kilometer dari pusat Kota Wonogiri.

Catatan terbaru Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Wonogiri menyebut sekitar 12.525 keluarga dengan jumlah lebih dari 68.000 jiwa harus berpindah akibat pembangunan tersebut. Peristiwa pemindahan besar itu kemudian dikenal dengan istilah Bedhol Desa.

Sebagian warga mengikuti program transmigrasi menuju sejumlah kawasan di Sumatra. Tujuannya antara lain Jambi dan daerah lain yang disiapkan pemerintah untuk menerima keluarga dari Wonogiri.

Tidak seluruh unsur kampung dapat dipindahkan. Jalan, sawah, fondasi rumah, sumur, dan beberapa struktur pemakaman akhirnya berada di wilayah genangan ketika bendungan mulai dioperasikan.

Setiap kali air turun, sebagian sisa tersebut dapat muncul kembali. Makam menjadi bagian yang paling mudah dikenali karena banyak nisannya dibuat menggunakan batu yang mampu bertahan selama puluhan tahun.

Bedhol Desa Mengubah Kehidupan Puluhan Ribu Warga

Pembangunan waduk bukan hanya pekerjaan konstruksi. Ribuan keluarga harus meninggalkan tempat kelahiran, lahan pertanian, tetangga, serta ruang sosial yang telah dihuni beberapa generasi.

Arsip Pemerintah Kabupaten Wonogiri menggambarkan Bedhol Desa sebagai salah satu peristiwa besar dalam sejarah daerah tersebut. Penduduk tidak sekadar pindah rumah, tetapi harus memulai kehidupan baru di tempat yang berjarak ratusan kilometer dari kampung asal.

Program transmigrasi membawa sebagian warga ke Sumatra. Ada keluarga yang berpindah bersama kerabat dan tetangga, tetapi ada pula anggota keluarga yang menetap di wilayah Wonogiri yang tidak terkena genangan.

Pemindahan makam menjadi persoalan tersendiri. Bagi masyarakat Jawa, area pemakaman mempunyai hubungan kuat dengan keluarga serta tradisi ziarah. Relokasi jenazah harus dilakukan sebelum kawasan tergenang, tetapi struktur makam lama tidak seluruhnya dibongkar.

Itulah sebabnya garis batu, kijing, dan nisan masih dapat ditemukan ketika air menyusut puluhan tahun kemudian.

Monumen Bedol Desa yang berada di Pokoh Kidul dibangun sebagai pengingat terhadap warga yang meninggalkan kampungnya. Monumen tersebut diresmikan bersamaan dengan Waduk Gajah Mungkur pada 17 November 1981.

Waduk Dibangun untuk Mengendalikan Bengawan Solo

Pengorbanan masyarakat dilakukan karena Waduk Gajah Mungkur mempunyai fungsi yang sangat besar bagi wilayah Bengawan Solo. Salah satu tujuan utamanya adalah mengendalikan banjir yang sebelumnya sering merendam kawasan di bagian hilir.

Pemerintah Kabupaten Wonogiri mencatat waduk mampu membantu mengendalikan aliran banjir Bengawan Solo. Selain itu, air waduk digunakan untuk mendukung irigasi sekitar 23.600 hektare lahan di Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, serta Sragen.

Waduk juga menjadi sumber pembangkit listrik dengan kapasitas maksimum sekitar 12,4 megawatt. Perairannya digunakan untuk budidaya ikan air tawar, kegiatan perikanan tangkap, serta pariwisata.

Fungsinya kini bertambah sebagai sumber air bagi sistem penyediaan air minum regional. Kementerian Pekerjaan Umum mencatat Bendungan Wonogiri menjadi sumber air baku SPAM Regional Wosusokas yang melayani wilayah Wonogiri, Sukoharjo, Surakarta, dan Karanganyar.

Sedimentasi menjadi salah satu persoalan yang terus ditangani. Material dari Sungai Keduang dapat masuk dalam jumlah besar sehingga pemerintah membangun closure dike untuk memisahkan bagian penampungan sedimen dari waduk utama.

Kemarau 2026 Juga Memicu Kekurangan Air Bersih

Turunnya Waduk Gajah Mungkur berlangsung ketika sejumlah wilayah Wonogiri mengalami kekeringan. Pemerintah daerah telah menyalurkan bantuan air bersih kepada desa yang mengalami kekurangan pasokan.

BPBD Wonogiri mencatat hingga awal Agustus 2026 sedikitnya enam kecamatan, 19 desa, dan 68 dusun melaporkan kekurangan air. Jumlah warga yang terkena mencapai sekitar 3.400 keluarga atau 10.088 jiwa.

Menurut laporan BPBD, musim kemarau 2026 dipengaruhi El Nino sehingga keadaan menjadi lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah Kabupaten Wonogiri mengalokasikan Rp300 juta untuk penyediaan sekitar 1.045 tangki berkapasitas 5.000 liter.

Distribusi bantuan juga dilakukan bersama kelompok masyarakat serta lembaga lain. Wilayah seperti Wuryantoro, Eromoko, Pracimantoro, dan Giritontro termasuk daerah yang menerima bantuan air selama September.

Surutnya waduk dan krisis air bersih tidak dapat langsung dianggap sebagai satu persoalan yang sepenuhnya sama karena sumber pasokan setiap desa berbeda. Keduanya tetap memperlihatkan tekanan musim kering yang sedang dihadapi Wonogiri.

Warga Mulai Beraktivitas di Dasar Waduk yang Terbuka

Turunnya air tidak hanya membuka makam. Dasar waduk yang mengering juga kembali digunakan sebagian masyarakat untuk mencari ikan dan bercocok tanam secara musiman.

Pemerintah Kabupaten Wonogiri mencatat kawasan pasang surut Waduk Gajah Mungkur mencapai sekitar 6.000 hektare. Sebagian area tersebut telah lama dimanfaatkan masyarakat untuk budidaya pertanian ketika air berada pada posisi rendah.

Di sekitar kompleks makam Wuryantoro, warga terlihat mencari ikan dan mengolah tanah yang tidak lagi tergenang. Aktivitas tersebut berlangsung berdampingan dengan batu nisan yang tersebar di permukaan.

Ketika musim hujan kembali datang, kawasan yang sekarang dapat diinjak akan terendam lagi. Tanaman harus dipanen sebelum air naik, sedangkan perahu kembali menjadi sarana untuk melewati bagian yang selama kemarau berubah menjadi daratan.

Perubahan tersebut membuat kawasan pasang surut mempunyai ritme kegiatan tersendiri. Nelayan menyesuaikan lokasi mencari ikan, petani membaca perubahan air, dan warga mengetahui kapan jalur menuju bekas kampung dapat dilewati.

Ratusan Makam Pernah Terlihat pada Kemarau Lebih Kering

Perbedaan tinggi air menjelaskan mengapa jumlah makam yang terlihat setiap tahun tidak sama. Pada 2023, musim kemarau membuka kawasan lebih luas hingga ANTARA melaporkan ratusan makam muncul di area waduk.

Foto pada periode tersebut memperlihatkan deretan makam dalam jumlah besar pada permukaan tanah kering. Sebagian kijing masih utuh, sementara lainnya sudah runtuh setelah berkali kali mengalami siklus terendam dan terbuka.

Pada 2026, keadaan belum mencapai titik serendah itu. Soemardjono mengatakan air tahun ini surut lebih lambat. Makam yang biasanya mulai terlihat Agustus baru muncul pada September.

Karena itu, pernyataan bahwa ratusan makam muncul perlu diberi keterangan waktu. Ratusan pernah terlihat ketika waduk turun lebih dalam, sedangkan laporan terbaru September 2026 mencatat puluhan makam sudah tampak dan jumlah lainnya masih berada di bawah air.

Perubahan dalam beberapa pekan berikutnya akan bergantung pada hujan, aliran sungai masuk ke waduk, serta pengaturan air untuk berbagai kebutuhan.

Menurut penulis, ketelitian jumlah penting karena fenomena ini bukan sekadar pemandangan menarik. Setiap nisan merupakan jejak keluarga dan kampung yang pernah berdiri di wilayah genangan.

Pengunjung Perlu Berhati Hati Mendekati Kompleks Makam

Kemunculan makam lama menarik perhatian warga dan pengunjung. Namun, area dasar waduk bukan lokasi wisata yang dirancang dengan jalur pejalan kaki, pagar, atau permukaan yang selalu stabil.

Lokasi makam di Wuryantoro berada sekitar 500 meter dari Kantor Kelurahan Wuryantoro. Akses menuju area tersebut cukup sulit karena sebagian jalurnya merupakan dasar waduk yang baru terbuka setelah air turun.

Tanah dapat terlihat kering pada permukaan tetapi masih lunak di bagian bawah. Lumpur, lubang, sisa struktur, batu, serta perubahan muka air dapat meningkatkan risiko ketika pengunjung berjalan terlalu jauh.

Pengunjung juga perlu memperlakukan area pemakaman dengan hormat. Batu nisan tidak sebaiknya dipindah, diduduki, dicoret, atau dibawa pulang. Beberapa struktur mungkin telah kosong setelah jenazah direlokasi, tetapi lokasi tersebut tetap berhubungan dengan sejarah keluarga warga.

Dokumentasi foto dapat dilakukan tanpa merusak susunan yang tersisa. Pemerintah daerah dan masyarakat juga dapat memanfaatkan kemunculan berkala tersebut untuk mencatat posisi, tulisan, serta bentuk nisan sebelum erosi semakin menghilangkan informasi yang masih tersisa.

Air Akan Menutup Kembali Jejak Kampung Lama

Fenomena di Wuryantoro hanya dapat dilihat selama permukaan waduk cukup rendah. Ketika curah hujan meningkat dan aliran sungai kembali mengisi waduk, nisan perlahan akan menghilang di bawah air.

Siklus itu telah berlangsung selama puluhan tahun. Pada satu musim, hanya bagian atas nisan yang terlihat. Ketika kemarau lebih panjang, deretan makam, lahan, dan jejak kampung dapat muncul dalam wilayah yang jauh lebih luas.

Keberadaan makam membuat sejarah pembangunan waduk terasa nyata. Angka 51 desa dan puluhan ribu warga yang direlokasi tidak lagi sekadar data ketika pengunjung dapat melihat langsung struktur yang pernah berada di tengah permukiman.

Arsip daerah, Monumen Bedol Desa, cerita warga lanjut usia, dan nisan di dasar waduk saling melengkapi catatan mengenai perubahan besar yang dialami Wonogiri pada akhir 1970 an hingga awal 1980 an.

Pada September 2026, sebagian jejak tersebut kembali terbuka. Puluhan makam sudah terlihat di Wuryantoro, sementara bagian lainnya masih berada di bawah permukaan. Jika air terus turun, area yang terbuka dapat bertambah, sebelum hujan berikutnya kembali menenggelamkan bekas kampung di dasar Waduk Gajah Mungkur.